Sejarah Singkat Al Amanah Al Bantani

02 Maret 2016 / 07:27:55 - Fandi Ahmad Saktianto, Dibaca: 1169 kali
sejarah-singkat-al-amanah-al-bantani

Tangsel-alamanahvocis Cukup sulit untuk mengatakan bahwa sebuah organisasi dapat berdiri tanpa adanya peran individual sang pendiri, terutama dalam perannya sebagai motor penggerak. Sang pendiri mau bergerak karena didorong oleh idealisme yang dimilikinya. Agar idenya dapat diwujudkan, maka perlu adanya wahana atau alat untuk organisasi tersebut. Bahkan diapun mengajak orang lain yang memiliki kesamaan pandang untuk berjuang bersama.

 

Setelah sekian waktu perannya tadi perlu untuk dipaparkan. Maka ketika perannya tersebut diangkat bukan berarti merupakan upaya mengkultuskan pribadinya, asalkan tidak ditambah dengan bumbu-bumbu bombastis. Rasanya tidak mungkin kita menceritakan sebuah mobil berlari seraya mengatakan bahwa mobil itu tidak berbensin, ataupun mengatakan sebuah aliran sungai sambil mengatakan sungai tersebut tidak punya hulu. Demikian pula ketika sungai Al Amanah Al Bantani disebutkan maka yang pertama harus diketahui adalah dari mana Al Amanah Al Bantani berhulu.

 

Agaknya sungai Al Amanah Al Bantani berhulu pada Pak Ustadz, Panggilan akrab H. Tb. Suhandi. Pada mulanya beliau sebagai ustadz yang mengajar dari masjid ke masjid maupun dari rumah ke rumah, menyiarkan ajaran Islam. Pada suatu kesempatan salah seorang jamaah beliau, ibu Hj. Fien Sulaeman mewakafkan sebidang tanahnya. Kesempatan ini tidak disia siakan oleh Pak Ustadz.

Rupanya wakaf tersebut menyalakan kembali semangatnya sebagai seorang santri Tebuireng. Ketika masih nyantri, seorang santri biasanya punya cita-cita kalau sudah tamat mondok, akan mendirikan sebuah madrasah, lembaga pendidikan untuk menggembleng anak didik agar berpengetahuan dan berperilaku Islami.

 

Modal awal pembangunan gedung berasal dari infaq Ibu Hj. Nihaya Roeba'i (juga salah seorang jama'ah Pak Ustadz) dan donatur lainnya. Pada tanggal 25 November 1990 pembangunan gedung dimulai.

 

Di tengah perjalanan, pembangunan mengalami ketersendatan. Dengan bantuan Ir. H.M. Wargono Soenarko, H. Poerwanto Soewadji dan H. Zaenuddin Hasan, pembangunan dilanjutkan. Hal ini menambah semangat Pak Ustadz, Pak Pepen Sulaeman maupun Ibu Hj. Nihaya Roeba'i untuk melanjutkan pembangunan. Akhirnya pembangunan gedung selesai. Saat ini bangunan tersebut adalah gedung SLTP yang mulai digunakan tahun pelajaran 1991/1992.


Menyadari bahwa sebuah lembaga harus memiliki legalitas formal, maka tanggal 18 Maret 1991 ditandatangani sebuah akta pendirian Yayasan Pondok Pesantren Al Amanah, yaitu akta notaris Dr. H. Erwal Gewang, SH. Nomor 4 tahun 1991. Tanggal penandatanganan akta tersebut selanjutnya dinyatakan sebagai hari lahir (harlah) Al Amanah.



Berita Lainnya